Harmony Doesn't Come With Money

by - 8:42 AM



Selamat... (pagi,siang,malam,subuh) silakan diisi sendiri
It's been kinda hectic this week dan gue baru sempet dan nemu inspirasi buat ngeblog lagi hehe
Gue mau share sesuatu yang mungkin agak klise bagi kalian tapi ini jujur aja merupakan sesuatu yang heartwarming banget buat gue.

/Akhirnya Ku Menemukanmu - Naff on play/

Jadi ginii, beberapa hari lalu waktu gue mau berangkat ngampus as usual gue buka pager kosan dulu kan dan waktu gue keluar dan mau gembok pager ada 1 orang bapak, 1 ibu, dan 1 anak laki-lakinya.
Anak laki-lakinya itu bawa sebuah karung bekas karung beras gitu.
They walked together dan sambil bercengkrama.
Awalnya gue gak ngeh dengan mereka, gue cuma anggep mereka sebagai orang asing aja yang sama-sama memakai jalanan itu.
Akhirnya gue jalan aja tuh, dan posisinya gue ada dibelakang mereka.
Pas udah di pertengahan jalan, gue merhatiin mereka lagi dan disitu gue liat si ibu dan bapak lagi gandengan tangan and I was like... "omg cute"
Anaknya sesekali nengok buat ngobrol sama ibu bapaknya, disitu gue kayak terenyuh banget liat mereka yang...dalam kesederhanaan mereka, mereka masih bisa hidup harmonis as a family.
Mereka gak malu untuk menunjukkan bahwa mereka itu adalah keluarga.
Gue mencoba untuk foto mereka tapi banyak banget gangguan yang ada di jalanan itu dan akhirnya gue terpisah sama mereka.
That scene really really warms my heart even until this second I type this sentence.
Gue merasakan dan gue mulai bisa ngerti gitu, bahwa kebahagiaan bukan dan gak bisa diukur sama yang namanya uang atau materi.
Klise? iya gue tau ini adalah cerita yang biasa banget mungkin sering kalian denger. 
Tapi, mendengar dan melihat langsung adalah kedua hal yang amat beda dan bisa merubah perspektif dan paradigma kita akan "bahagia itu sederhana" atau "money can't buy you happiness".

Ditambah lagi gue abis ikut program gladi sosial & budaya dari kampus dan gue dapet kesempatan untuk gladi sosial di Desa Banjarsari, Kec. Pengalengan. 
Gue tinggal di rumah Ibu Imas. 
Si ibu bekerja di kebun teh dan si bapak di kandang sapi. 
Anak mereka masih di bangku 3 SMP dan 2 SD.
Here's the condition, mereka harus bekerja di kebun teh karena kalau mereka gak kerja disitu mereka harus bayar sewa rumah setiap bulan sebesar Rp. 600 ribu.
Jadi mau gak mau mereka harus kerja di kebun teh itu dan mereka masih bekerja sambilan juga kayak jualan jajanan buat anak-anak SD dan gapernah ada kata capek.
Mereka juga selalu berusaha ngasih hidangan terbaik buat gue dan teman serumah gue walau dalam segala keterbatasan mereka.
Disini gue belajar kalo dalam segala kesederhanaan banyak hal yang bisa disyukuri.
Kayak, si Taufiq yang masih SD sekolah dengan jadwal yang gak teratur, tergantung guru datengnya kapan, meanwhile gue yang kuliah udah jadwal jelas masih suka males kuliah.
Itu sih yang harus gue rubah dan juga buat gak mengeluh terus sama apa yang udah gue punya dan gak mengeluh sama apa yang gue udah pilih untuk gue jalanin.
Disini juga menggambarkan bahwa dalam kesederhanaan itu bukan penghalang untuk hidup rukun dan bahagia.

Gue rasa kata-kata itu emang bener.
Bahagia itu sederhana.

You May Also Like

1 comments